Halaman

Sabtu, 28 Maret 2015

MERINTIS MIMPI ANAK NEGERI MELALUI PROGRAM INDONESIA MENGAJAR, PASCA TRAGEDI GEMPA BUMI NIAS 2005

sebaik-baiknya hidup manusia adalah berguna bagi sesamanya manusia…….
 
Sebagian besar dari kita mungkin telah lupa ataupun tidak tahu sama sekali tentang kejadian gempa yang pernah terjadi di Pulau Nias tahun 2005. Benar, untuk jangka waktu yang cukup lama, kejadian tersebut mungkin perlahan terlupakan, dan untuk skala jumlah korban, bila dibandingkan dengan tsunami Aceh, 2004 ataupun gempa bumi, Jogyakarta jumlah korban akibat gempa bumi di Nias masih tergolong sedikit sekitar 1000 jiwa.
Namun, bagi seorang yang yang merasakan langsung kejadian tersebut, memori tersebut masih tersimpan hangat, dan tidak terlupakan. Suatu hal yang sampai saat ini terus saya syukuri, bagaimana Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk terus hidup dan mengembangkan hidup saya.
Kejadian tersebut sudah terjadi sekitar 10 tahun silam, ketika itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Tak banyak yang bisa dilakukan saat itu, kecuali mengharapkan bantuan dari pemerintah dan relawan. Perekonomian lumpuh total, masyarakat dari desa datang ke kota menjarah toko-toko sandang dan pangan  yang hancur akibat gempa demi menyambung  hidup karena bantuan tidak sepenuhnya terdistribusi di daerah terpencil. Masih hangat diingatan, bagaimana saya beserta keluarga saya menjalani hidup serba kekurangan, dimana sandang pangan masih berasal sepenuhnya dari bantuan-bantuan yang ada.
Kurang lebih dua bulan selang kejadian gempa, masyarakat Nias mulai berbenah, Perekonomian mulai berjalan seadanya walau tidak stabil. Dan saya, saya mulai bersekolah saat itu. Untuk pengganti gedung sekolah yang hancur dan rata dengan tanah maka didirikanlah tenda-tenda darurat yang panasnya luar biasa ketika siang hari. 

Namun, tidak ada suatu kejadian yang tidak ada hikmahnya - demikianlah orang-orang menyebutnya. Kejadian gempa mungkin saja menyisakan duka kehilangan dan rasa trauma mendalam bagi yang mengalaminya. Namun, bila diliihat dari sisi lain, banyak hal yang sangat disyukuri masyarakat Nias, terutama saat itu, diantaranya :
  1. Perekonomian Nias, berangsur mengalami peningkatan. Walaupun masih tahap pembangunan pasca gempa, perekonomian nya lebih baik setelah terjadinya gempa. Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat Nias yang mengenal bisnis dan kemudian menjalankannya.
  2. Banyak tokoh politik yang mengunjungi Pulau Nias. Diantaranya Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarno Putri, Surya Paloh dsb. Hal tersebut secara tidak langsung menimbulkan kebanggaan tersendiri dalam diri masyarakat Nias, bahwa walaupun daerah kecil dan jauh di ujung Sumatera, Pulau Nias masih wilayah NKRI yang perlu diperhatikan.
  3. Banyak bantuan sandang, pangan, papan dan medis dari Indonesia yang sangat membantu saat itu.
  4. Sektor pendidikan mengalami kemajuan. Dahulu di daerah-daerah pedesaan di Pulau Nias, akses pendidikan sangat sulit. Bersekolah bukan menjadi hal yang utama karena minimnya fasilitas dan tenaga pengajar. Namun setelah gempa, bantuan sosial mulai berdatangan, akses-akses ke sekolah mulai dibuka. Banyak warga yang bisa bersekolah setelah terjadinya gempa.
Gambar : SD Mutiara, Pasca Gempa 2005 Sumber : nias-bangkit.com

10 tahun berlalu…….

Bagaimana pun juga,  yang namanya lembaga bantuan sosial untuk bencana alam terdapat batasan waktu dan tidak selamanya akan diadakan di suatu daerah. Terlebih jika daerah tersebut dinilai cukup baik setelah diberikannya bantuan. Begitu pun dengan Nias. Setelah sepuluh tahun kejadian gempa, banyak hal-hal yang ditinggalkan oleh lembaga pemberi bantuan sosial baik dalam maupun luar negeri. Terutama dalam sektor pendidikan, setelah relawan-relawan pengajar menarik diri dari NIas, sektor-sektor pendidikan mengalami kekurangan tenaga kerja, Sektor pendidikan, terutama di daerah-daerah pedesaan sulit dilakukan kegiatan mengajar.

tentang program Indonesia Mengajar……
Sepuluh tahun sejak kejadian gempa bumi di Nias 2005. Sekarang saya berlatar belakang seorang mahasiswa di Universitas Gunadarma, Depok. Sering kali secara sengaja ataupun tidak saya melihat artikel tentang Indonesia Mengajar dari berbagai media. Ide awal yang dikonsep Bapak Anies Baswedan ini merupakan suatu ide dari anak bangsa yang dijadikan salah satu solusi persoalan pendidikan bangsa saat ini. Secara personal, saya merasa bangga adanya program seperti Indonesia Mengajar diterapkan di daerah-daerah yang kekurangan tenaga pengajar. Demikian juga untuk daerah saya yang jauh disana, kebutuhan akan pengajar merupakan suatu hal yang harus diwujudkan. Masyarakat Nias setelah ditinggalkan relawan pengajar harus diisi dengan pengajar yang lebih berkualitas. Dan program Indonesia Mengajar bisa menjembatani mimpi saya terwujud. Pendidikan itu wajib, pengetahuan itu harus ada . Bantu kami mewujudkannya….
Sumber gambar : Nias-bangkit.com
Depok, 04 Maret 2015
Tulisan ini ungkapan mimpi saya untuk kemajuan pendidikan adik-adik saya di pedesaan Kepulauan Nias.

#CatatanKebangsaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar